Sukomoro– Hari Minggu, 6 September 2026, cuaca cerah menemani langkah Brigpol Diki Nurfauji saat ia berjalan menyusuri gang-gang di Kelurahan Sukomoro untuk melaksanakan tugas sambang. Di depan sebuah rumah, ia melihat kolam yang cukup luas dengan air yang tampak jernih dan dipenuhi oleh gerombolan ikan. Tanpa berpikir panjang, ia berasumsi bahwa ikan tersebut adalah lele karena selama ini mayoritas warga di wilayah itu memang beternak lele. Namun, pandangannya langsung berubah ketika ia memperhatikan sisik dan bentuk mulut ikan yang berbeda—ternyata itu adalah gurame.
"Saya kira ikan lele, Pak, tapi saya salah. Ini gurame, ikan yang harganya selangit," kata Brigpol Diki sambil tertawa renyah. Ia lalu meminta izin untuk duduk sebentar dan berbincang lebih jauh dengan pemilik kolam tentang alasan memilih gurame di tengah dominasi lele di pasaran. Pemilik kolam dengan ramah menjelaskan bahwa ia sudah bertahun-tahun membudidayakan gurame dan tidak pernah menyesali pilihannya.
Menurut pemilik kolam, gurame memang memerlukan waktu panen yang lebih panjang, sekitar satu tahun, tetapi keuntungan yang didapat jauh lebih besar dibandingkan lele. Ia memberi contoh bahwa harga gurame di tingkat konsumen bisa mencapai dua hingga tiga kali lipat harga lele, sehingga meskipun hanya panen setahun sekali, pendapatannya tetap stabil. "Saya tidak masalah menunggu asalkan hasilnya sepadan dengan jerih payah saya," tegasnya.
Brigpol Diki sangat mengapresiasi ketekunan peternak tersebut dan menyebutnya sebagai teladan bagi warga lain yang ingin mencoba usaha perikanan. Ia mengatakan bahwa banyak orang yang terburu-buru ingin panen cepat, padahal kesabaran sering kali membawa hasil yang lebih besar. "Ini pelajaran berharga bagi kami semua bahwa usaha tidak selalu instan, tetapi yang instan belum tentu menguntungkan," ujar Brigpol Diki bijak.
Lebih lanjut, Brigpol Diki mencatat bahwa gurame memerlukan perhatian khusus terhadap kebersihan kolam dan kualitas pakan agar pertumbuhannya optimal dan tidak terserang penyakit. Ia menyarankan agar pemilik kolam mulai mencatat setiap pengeluaran dan pemasukan untuk mengukur keuntungan bersih secara lebih akurat. Dengan data yang jelas, ia yakin peternak bisa mengambil keputusan yang lebih baik untuk pengembangan usahanya ke depan.
Sambang pada Minggu itu pun berakhir dengan kesan mendalam bagi Brigpol Diki karena ia berhasil menemukan satu contoh nyata usaha perikanan yang berkelanjutan. Ia berjanji akan kembali lagi untuk melihat perkembangan panen gurame setelah beberapa bulan ke depan. Dengan dukungan yang terus mengalir, ia berharap semakin banyak warga Sukomoro yang terinspirasi untuk membudidayakan ikan bernilai ekonomi tinggi. (Avs)
0 Komentar