STIK Palembang Gagas Desa Digital Tanggap Karhutla Lewat Deteksi Dini Kamtibmas


Palembang- Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) Lemdiklat Polri menggelar misi pengabdian selama empat hari di Sumatera Selatan, tepatnya di Palembang dan Ogan Komering Ilir, untuk membentengi masyarakat dari ancaman kebakaran hutan dan lahan melalui pendekatan deteksi dini berbasis komunitas digital. Ketua STIK Irjen Eko Rudi Sudarto menegaskan bahwa wilayah ini dipilih karena kerentanan karhutla yang tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga memicu gangguan kamtibmas, mengganggu aktivitas ekonomi, mobilitas, hingga kesehatan warga yang terdampak asap. Program bertajuk "Penerapan Sistem Deteksi Dini Berbasis Komunitas Digital dan Edukasi" ini menjadi bukti nyata bahwa ilmu kepolisian tidak berhenti di ruang kuliah, melainkan turun langsung menjawab persoalan riil di tengah masyarakat.


Palembang- Kunci utama dari inisiatif ini adalah pemanfaatan teknologi digital sebagai instrumen percepatan komunikasi, pelaporan awal, dan koordinasi ketika muncul potensi gangguan keamanan, di mana masyarakat ditempatkan sebagai aktor sentral karena kedekatan mereka dengan lingkungan sekitar. Tim dosen STIK yang dipimpin oleh Prof. Lindrianasari, KBP Yudhi Hery Setiawan, KBP Erick Hermawan, dan Rahmadsyah Lubis, tidak hanya memberikan materi, tetapi juga melibatkan kepolisian, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan sekolah dalam sesi edukasi yang intensif. Eko menekankan bahwa pendekatan ini mengubah paradigma dari responsif menjadi preventif, membangun kesadaran risiko sejak dini agar masyarakat mampu mengenali dan melaporkan tanda-tanda bahaya sebelum berubah menjadi bencana besar.


Palembang- Selain penguatan kapasitas masyarakat, STIK juga mendorong terbentuknya jejaring komunikasi yang solid antara unsur kepolisian, pemda, dan institusi pendidikan, sehingga tercipta ekosistem keamanan yang partisipatif dan berkelanjutan. Model pengabdian ini diharapkan menjadi prototipe yang dapat direplikasi di wilayah rawan karhutla lainnya di Indonesia, mengingat tantangan serupa menghadang banyak daerah dengan lahan gambut dan hutan luas. Eko pun mengajak seluruh pihak untuk melihat keamanan sebagai tanggung jawab kolektif, di mana kolaborasi dan teknologi yang tepat mampu melahirkan masyarakat yang sadar, responsif, dan tangguh menghadapi setiap potensi gangguan kamtibmas di masa depan. (Avs)

Posting Komentar

0 Komentar