Nganjuk- Di bawah naungan pohon rindang di tepi lahan, Aipda Kasmadi membuka buku catatan kecilnya dan mulai menghitung mundur hari-hari menuju masa panen bersama para petani Desa Gebangkerep yang duduk melingkar di sekelilingnya. Sabtu (29/8) berubah menjadi ruang konsultasi dadakan di mana petani leluasa bertanya tentang segala hal, mulai dari prediksi cuaca hingga solusi pemasaran hasil kebun. Baginya, menjadi Bhabinkamtibmas bukanlah jabatan, melainkan panggilan untuk hadir di setiap fase kehidupan warganya.
Petani dengan gamblang menjelaskan bagaimana mereka mengatur jadwal tanam agar jagung dan melon bisa dipanen serentak dalam waktu singkat, memudahkan pengumpulan dan pengiriman ke pembeli. Mereka juga mengungkapkan kekhawatiran bahwa jika hujan turun lebih cepat dari perkiraan, maka sebagian besar hasil panen harus dijual murah karena kualitasnya menurun. Aipda Kasmadi mencatat semua ini dengan teliti, bertekad untuk meneruskannya ke dinas pertanian dan badan meteorologi setempat.
Diskusi berlanjut ke masalah akses kredit pertanian yang masih dianggap rumit oleh sebagian besar petani, terutama mereka yang tidak memiliki agunan atau surat kepemilikan lahan yang jelas. Aipda Kasmadi menjelaskan tentang program KUR pertanian dan skema pembiayaan alternatif melalui koperasi desa, serta bersedia mendampingi petani dalam proses pengajuan. Ini menjadi angin segar bagi mereka yang selama ini mengandalkan modal pribadi yang sangat terbatas.
Kehadiran Aipda Kasmadi yang rutin dan tidak pernah memilih-milih waktu membuat petani merasa memiliki "sahabat" di institusi kepolisian, sesuatu yang jarang mereka rasakan sebelumnya. Mereka bercerita tentang pengalaman buruk ketika melaporkan kehilangan alat pertanian dan tidak mendapat tindak lanjut, tetapi kini mereka berani melapor karena yakin akan ditangani dengan serius. Kepercayaan ini adalah aset berharga yang tidak ternilai bagi terciptanya keamanan desa yang partisipatif.
Aipda Kasmadi juga mengingatkan pentingnya dokumentasi hasil panen dan pengelolaan keuangan yang rapi, agar petani bisa menghitung secara akurat biaya produksi dan keuntungan bersih setiap musim. Ia mengajarkan cara sederhana mencatat pengeluaran dan pemasukan menggunakan aplikasi di ponsel, yang sangat membantu untuk perencanaan tanam berikutnya. Langkah kecil ini diharapkan mampu mengubah kebiasaan petani dari sekadar bertani menjadi wirausaha pertanian yang profesional.
Kegiatan sambang yang berlangsung hangat dan penuh tawa ini membuktikan bahwa urusan ketahanan pangan adalah tanggung jawab kolektif yang melintasi sektor dan institusi. Aipda Kasmadi mengakhiri perbincangan dengan pesan bahwa petani adalah pahlawan sejati yang layak mendapatkan perlindungan dan pendampingan tanpa henti. Di Desa Gebangkerep, setiap tongkol jagung dan setiap buah melon yang dipanen adalah hasil dari sinergi yang tulus antara aparat dan masyarakat, sebuah ikatan yang terus menguat di setiap musim. (Avs)
0 Komentar