Rute penerbangan Zheng Rongjing dari Beijing menuju Jakarta ternyata menjadi akhir dari pelarian panjangnya. Begitu pesawat AirAsia QZ-475 menyentuh landasan pada pukul 23.50 WIB, tim Sekretariat NCB Interpol Indonesia yang telah berkoordinasi dengan Imigrasi langsung bergerak cepat. Brigjen Pol. Untung Widyatmoko menyebut bahwa penangkapan terjadi dalam hitungan menit setelah pria itu melintasi gerbang kedatangan, tanpa perlawanan berarti. Keberhasilan ini, menurutnya, tidak lepas dari sistem pelacakan terintegrasi yang mampu mendeteksi masuknya subjek buronan ke wilayah Indonesia sejak ia membeli tiket.
Di sisi lain, Brigjen Pol. Trunoyudo menekankan bahwa operasi ini bukan hanya tentang menangkap satu orang, tetapi tentang mengirim sinyal kepada dunia bahwa Indonesia tidak akan mentolerir kejahatan transnasional. Ia mengaitkan langkah ini dengan visi besar kepolisian yang tidak hanya bertindak reaktif, tetapi juga proaktif dalam mencegah masuknya pelaku kejahatan internasional. Dalam keterangannya di Gedung Awaloedin Djamin, ia juga menyoroti pentingnya modernisasi peralatan dan peningkatan kapasitas SDM agar penangkapan serupa dapat dilakukan dengan lebih efisien di masa depan. Baginya, ini adalah investasi jangka panjang untuk keamanan nasional.
Saat ini, Zheng Rongjing masih menjalani pemeriksaan intensif di Polda Metro Jaya untuk mengungkap maksud kedatangannya ke Indonesia. Brigjen Pol. Untung mencurigai bahwa buronan tersebut tidak datang sendirian; ada indikasi bahwa jaringan lokal telah menyiapkan tempat dan sarana penunjang untuk aktivitas scam-nya. Ia mengatakan bahwa penyidik akan menggali semua kemungkinan, termasuk aliran dana dan komunikasi dengan pihak-pihak tertentu di dalam negeri. Proses ini akan berlangsung beberapa hari sebelum akhirnya dilakukan handing over kepada NCB Interpol Beijing, sebagaimana prosedur yang telah disepakati.
Meskipun penangkapan ini patut diapresiasi, Brigjen Pol. Untung mengingatkan bahwa perang melawan kejahatan siber lintas negara masih jauh dari usai. Ia menyebut bahwa para pelaku kerap berpindah-pindah lokasi dan menggunakan teknologi canggih untuk menghindari deteksi, sehingga kerja sama internasional harus terus diperkuat. Ke depan, Polri berencana meningkatkan pertukaran intelijen dengan negara-negara lain, khususnya di kawasan Asia Tenggara yang menjadi sarang utama kegiatan online scam. Baginya, keberhasilan hari ini adalah fondasi, bukan puncak, dari upaya kolektif memberantas kejahatan yang merugikan jutaan korban di berbagai belahan dunia. (Avs)
.jpeg)
0 Komentar