Sabtu pagi di Tuban, ribuan petani berkerumun di lahan jagung yang mulai menguning. Presiden Prabowo Subianto tiba untuk memimpin panen raya kuartal II, disambut sorak gembira dan doa-doa panjang. Namun di tengah euforia itu, Tasmuri, ketua Poktan Ngudi Makmur, memilih berbicara jujur tentang dua sisi mata uang yang dihadapi petani saat ini.(Avs)
Sisi baiknya, perubahan kebijakan pupuk terasa nyata. Yang dulu mahal dan sulit didapat, sekarang harganya turun dan pelayanannya sederhana. Harga jagung pun melonjak dari Rp4.000 menjadi Rp6.200 per kilogram, membuat petani lega karena biaya produksi tertutup. "Petani sangat gembira," ujar Tasmuri, meski matanya menyiratkan beban yang belum lepas sepenuhnya.(Avs)
Beban itu bernama air. Lahan seluas 631,7 hektare yang dikelola kelompoknya tidak memiliki irigasi teknis. Mereka hanya mengandalkan hujan, sehingga musim kemarau selalu menjadi mimpi buruk. "Sudah gagal panen kedua, petani rugi besar," keluhnya. Maka di sela-sela pujian untuk Presiden, ia menyelipkan permintaan bantuan pengeboran air sebagai kunci keberlanjutan.(Avs)
Tak hanya Tasmuri, Sudarlim dari petani hutan juga menyuarakan perlunya alat pengering pascapanen. Meski demikian, keyakinan terhadap kepemimpinan Prabowo tetap kuat. "Saya optimis swasembada pangan akan sukses," kata Sudarlim. Ia berdoa agar perhatian kepada petani tidak berhenti di acara seremonial, melainkan berlanjut ke sumur dalam, irigasi, dan mesin pengering yang selama ini hanya jadi mimpi.(Avs)

0 Komentar