Kesan pertama warga desa terhadap greenhouse biasanya mewah dan mahal. Tapi tidak bagi warga Desa Getas. Mereka membuat greenhouse sederhana dari rangka bambu yang diikat tali plastik, lalu ditutup lembaran plastik UV seharga puluhan ribu rupiah. Di dalamnya, puluhan polybar berisi sayuran seperti pakcoy, caisim, dan lobak tumbuh subur. Semua berkat pendampingan BRIPKA Moch. Muhajir, Bhabinkamtibmas Polsek Warujayeng, yang rutin memantau lahan Pekarangan Pangan Bergizi (P2B) sejak awal program hingga panen perdana pada Senin (11/5/2026).
Hasil panen dari greenhouse sederhana ini ternyata lebih sering dibandingkan tanaman di lahan terbuka karena tidak ada masa pemulihan pasca hujan deras atau angin kencang. Begitu satu tanaman dipanen, warga langsung menanam bibit baru di polybag yang sama. Dalam sebulan, satu greenhouse ukuran 2x4 meter bisa menghasilkan hingga tiga kali panen untuk sayuran daun. Warga jadi memiliki stok sayur segar setiap waktu tanpa harus ke pasar. Mereka bahkan mulai berbagi bibit dan teknik perawatan lewat grup WhatsApp desa, menciptakan ekosistem berbagi pengetahuan yang positif.
AKBP Suria Miftah Irawan, Kapolres Nganjuk, mengapresiasi gerakan ini sebagai bentuk nyata kolaborasi polisi dan masyarakat dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Kompol H. Ahmad Junaedi selaku Kapolsek Warujayeng ingin agar setiap anggota bhabinkamtibmas memiliki proyek serupa di desa masing-masing. Prinsipnya sederhana, jika setiap rumah menyisihkan sedikit lahan dan waktu, maka ketahanan pangan akan menjadi kebiasaan, bukan sekadar target pemerintah yang jauh dari jangkauan.(Avs)

0 Komentar