Kesan bahwa polisi hanya berkutat di balik meja laporan atau di tengah kemacetan lalu lintas mulai pudar di Nganjuk. Selasa (12/5/2026), AIPTU Pramu Sandita, Bhabinkamtibmas Desa Banjaranyar Polsek Warujayeng, terlihat asyik memantau tanaman sawi di pekarangan warga binaannya. Program Pekarangan Pangan Bergizi (P2B) ini merupakan bentuk dukungan Polri terhadap ketahanan pangan nasional, sekaligus membuktikan bahwa anggota kepolisian bisa menjadi motor penggerak di berbagai sektor. Kapolres Nganjuk AKBP Suria Miftah Irawan menyebut pendampingan seperti ini sebagai wujud Polri yang hadir dan dirasakan manfaatnya langsung oleh masyarakat, tidak hanya saat terjadi masalah.
Sawi menjadi pilihan utama dalam program ini karena kepraktisannya. Warga tidak perlu lahan luas, cukup polybag atau bedeng kecil di depan rumah, sawi sudah bisa tumbuh dengan baik. Siklus panen yang cepat membuat warga tidak perlu menunggu lama untuk merasakan hasil jerih payahnya. AIPTU Pramu Sandita dalam pemantauannya tidak hanya mengecek kesuburan tanaman, tetapi juga memberikan motivasi agar warga terus konsisten merawat, karena terkadang semangat menurun setelah panen pertama. Kapolres Nganjuk menegaskan bahwa program ini juga selaras dengan upaya menekan inflasi di tingkat lokal karena kebutuhan sayur dapat dipenuhi dari lingkungan sendiri.
Kapolsek Warujayeng Kompol H. Ahmad Junaedi menginstruksikan agar seluruh Bhabinkamtibmas di wilayahnya menjadikan program ini sebagai kegiatan rutin. Edukasi yang diberikan tidak boleh bersifat menggurui, tetapi harus berupa pendampingan yang empatik. Ia berharap Desa Banjaranyar bisa menjadi laboratorium sosial tentang bagaimana ketahanan pangan dibangun dari rumah tangga. Jika berhasil, model ini akan direplikasi ke desa-desa lain. Sawi yang dipanen sendiri rasanya lebih memuaskan, bukan hanya karena segar, tetapi karena ada rasa bangga telah mandiri.
Gerakan sawi di Nganjuk ini mungkin terlihat sederhana, tetapi dampaknya luar biasa. Seorang Bhabinkamtibmas yang bersedia menjadi "petani dadakan" bersama warganya adalah simbol bahwa tugas kepolisian tidak mengenal sekat. Keamanan dan kesejahteraan adalah dua sisi mata uang yang sama, dan AIPTU Pramu Sandita memilih untuk memegang keduanya sekaligus, dengan sawi sebagai medianya. (Avs)

0 Komentar