Terinspirasi Mbah Sadiman, Polres Trenggalek Tanam Ratusan Pohon Beringin demi Sumber Air Masa Depan


Ada sebuah kisah inspiratif dari lereng Gunung Lawu yang hingga kini terus menggema di berbagai kalangan. Kisah tentang Mbah Sadiman, seorang kakek sederhana yang menghabiskan puluhan tahun hidupnya untuk menanam pohon beringin di lahan-lahan kritis yang tidak pernah dipedulikan orang lain. Awalnya banyak yang menertawakan, menganggap pekerjannya sia-sia dan hasilnya tidak akan pernah ia nikmati di usia tuanya. Namun Mbah Sadiman tidak pernah peduli dengan ejekan. Ia terus menanam, merawat, dan menunggu dengan penuh kesabaran. Kini, setelah puluhan tahun berlalu, lereng Lawu yang dulu gersang telah berubah menjadi hijau dan memiliki sumber air yang melimpah. Ribuan keluarga yang tinggal di sekitar lereng tersebut tidak perlu lagi berjalan jauh untuk mendapatkan air bersih. Kisah inilah yang menggerakkan hati AKBP Ridwan Maliki untuk melakukan hal serupa di tanah kelahirannya, Trenggalek.

Bersamaan dengan peringatan Hari Bumi sedunia, Kapolres Trenggalek bersama seluruh jajaran Polres dan Polsek di 14 kecamatan menggelar aksi tanam pohon beringin serentak. Targetnya sangat jelas: 200 batang beringin harus tertanam di lahan-lahan kritis yang menjadi titik rawan kekeringan setiap tahun. Salah satu lokasi yang dipilih adalah puncak Bukit Margo Esis di Kelurahan Surodakan, sebuah tempat yang cukup terjal dan tandus. Di lokasi ini, AKBP Ridwan memimpin langsung penanaman 6 beringin dengan penuh semangat, meskipun keringatnya bercucuran karena terik matahari. Menurutnya, tempat-tempat yang paling sulit dan paling kritis justru adalah prioritas utama karena di sanalah pohon beringin paling dibutuhkan. "Makin sulit lokasinya, makin besar manfaatnya jika pohon ini berhasil tumbuh besar," ujar Kapolres di sela-sela kegiatan.

Apa istimewanya pohon beringin dibandingkan pohon lainnya? AKBP Ridwan Maliki menjelaskan bahwa sistem perakaran pohon beringin sangat unik dan tidak dimiliki oleh pohon lain. Akar beringin tidak hanya tumbuh ke bawah tetapi juga menyamping dan bahkan tumbuh ke atas membentuk akar gantung yang kemudian menembus tanah. Jaringan akar yang sangat luas ini mampu menyerap air dalam jumlah yang sangat besar saat musim hujan. Air tersebut kemudian disimpan di dalam tanah dan dilepaskan perlahan sepanjang tahun, bahkan saat musim kemarau sekalipun. Kemampuan inilah yang membuat kawasan yang ditanami pohon beringin cenderung memiliki mata air yang tidak pernah kering. Untuk sebuah wilayah seperti Trenggalek yang setiap tahun mengalami kekeringan di sejumlah desa, kehadiran pohon beringin di lahan kritis bisa menjadi solusi jangka panjang yang sangat efektif.

Proses untuk menikmati manfaat dari 200 beringin yang baru ditanam memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Kapolres Trenggalek memperkirakan, baru sekitar 10 hingga 30 tahun lagi pohon-pohon tersebut akan tumbuh besar dan memberikan dampak ekologis yang signifikan. Namun hal itu tidak menyurutkan semangatnya untuk tetap melanjutkan aksi ini. Baginya, menanam pohon adalah bentuk investasi paling tulus yang bisa diberikan oleh generasi sekarang kepada generasi yang akan datang. Sepuluh atau tiga puluh tahun dari sekarang, AKBP Ridwan mungkin sudah tidak lagi bertugas di Trenggalek atau bahkan sudah pensiun. Namun pohon beringin yang ia tanam bersama jajarannya akan tetap berdiri kokoh, terus menyerap air, dan terus memberi kehidupan kepada siapa pun yang membutuhkan. "Inilah warisan terbaik yang bisa kami tinggalkan untuk masyarakat Trenggalek," pungkasnya dengan senyum puas, sambil menatap bibit beringin kecil yang baru saja masuk ke lubang tanam di puncak Bukit Margo Esis.(Avs)

Posting Komentar

0 Komentar