Polantas Menyapa: Jembatan Komunikasi Antara Polisi dan Gen Z Nganjuk yang Selama Ini Terputus


Selama ini, ada jurang tak terlihat antara polisi lalu lintas dan generasi muda. Gen Z sering menganggap petugas sebagai sosok menakutkan yang hanya muncul saat razia dan siap menilang. Sementara di sisi lain, polisi kerap melihat anak muda sebagai pelanggar potensial yang sulit diatur. Namun jurang itu perlahan mulai tersambung melalui program Polantas Menyapa dari Satlantas Polres Nganjuk. Kamis (30/4/2026), Aiptu Didik menjadi jembatan pertama yang menghubungkan dua dunia tersebut. Ia duduk, berbincang, dan berdiskusi dengan remaja Gen Z serta komunitas motor tanpa seragam yang mengintimidasi. Kapolres Nganjuk AKBP Suria Miftah Irawan menegaskan bahwa generasi muda adalah mitra strategis, bukan lawan.

Pertemuan yang berlangsung dalam suasana santai namun penuh makna ini membahas banyak hal yang selama ini menjadi sumber kesalahpahaman. Kenapa helm standar SNI wajib digunakan meskipun terasa lebih berat? Apakah semua modifikasi kendaraan otomatis ilegal? Lalu bagaimana aturan tentang knalpot yang sebenarnya? Aiptu Didik menjawab semua pertanyaan dengan sabar dan data, bukan dengan ancaman. Kapolres Nganjuk menyampaikan bahwa jika Gen Z dan komunitas motor tertib, maka budaya disiplin di jalan akan lebih cepat terbentuk. Ini bukan sekadar harapan, melainkan logika sederhana: kelompok dengan mobilitas tertinggi memiliki dampak terbesar terhadap situasi lalu lintas.

Kasat Lantas Polres Nganjuk AKP Ivan Danara Oktavian menambahkan bahwa pendekatan dialogis ini sengaja dirancang untuk membangun kepercayaan, bukan ketakutan. "Kami hadir bukan hanya menindak, tetapi menjadi sahabat bagi generasi muda. Keselamatan harus menjadi identitas baru anak muda dan komunitas motor," tegasnya. Dalam program ini, tidak ada satu pun peserta yang digurui atau diintimidasi. Sebaliknya, mereka diajak berpikir kritis tentang pilihan mereka di jalan raya. Beberapa anggota komunitas motor bahkan mengaku baru pertama kali berbincang santai dengan polisi di luar konteks razia atau tilang. Pengalaman ini mengubah persepsi mereka bahwa polisi sebenarnya juga manusia biasa yang peduli pada keselamatan mereka.

Melalui program Polantas Menyapa yang menjadi jembatan komunikasi ini, Satlantas Polres Nganjuk berharap hubungan antara polisi dan generasi muda ke depan tidak lagi didasari rasa takut, tetapi rasa saling percaya dan saling menjaga. Remaja Gen Z dan komunitas motor diharapkan menjadi pelopor keselamatan dan agen perubahan yang tidak hanya patuh sendiri, tetapi juga mengajak teman-teman mereka untuk sama-sama sadar akan pentingnya keselamatan di jalan. Jika jembatan ini terus dibangun dan dirawat, maka bukan tidak mungkin suatu hari nanti, pelanggaran lalu lintas di kalangan muda akan menurun drastis bukan karena tilang, tetapi karena kesadaran kolektif.(Avs)

Posting Komentar

0 Komentar