Di tengah padatnya kendaraan yang melintasi Jalan Barito Nganjuk, Jumat pagi itu ada pemandangan yang menghangatkan hati. Seorang polisi lalu lintas bernama Aipda Andi terlihat duduk bersila di trotoar bersama tiga pengendara motor yang beberapa menit sebelumnya ia hentikan. Mereka tertawa bersama seolah-olah sedang berbincang santai di warung kopi, padahal topik yang dibahas sangat serius: keselamatan berkendara dan risiko kecelakaan fatal akibat kelalaian.
Aipda Andi kemudian menjelaskan secara panjang lebar bahwa keputusannya untuk tidak menilang bukan karena longgar, tetapi karena ia percaya pada kekuatan edukasi. Ia menunjukkan foto-foto helm yang hancur setelah kecelakaan dan membandingkannya dengan helm standar SNI yang masih utuh. Ia juga menceritakan pengalaman pribadinya saat membantu korban kecelakaan yang kepalanya terluka parah hanya karena memakai helm yang tidak sesuai standar. "Darahnya membasahi aspal dan saya tidak bisa tidur selama seminggu setelah melihatnya," katanya dengan nada yang mengharukan.
AKP Ivan Danara Oktavian yang mengetahui pendekatan Aipda Andi mengaku sangat bangga memiliki anggota seperti dia. Menurut Kasat Lantas tersebut, inisiatif individual seperti inilah yang paling dibutuhkan untuk mengubah budaya berkendara di Indonesia. Ia juga menegaskan bahwa pihaknya akan memberikan penghargaan khusus kepada personel yang paling aktif dan paling banyak memberikan edukasi selama program "Polantas Menyapa" berlangsung.
Kisah Aipda Andi dan program "Polantas Menyapa" adalah bukti bahwa menjadi polisi bukan hanya tentang menegakkan hukum secara kaku. Menyelamatkan nyawa bisa dilakukan dengan senyuman, obrolan ringan, dan empati yang tulus. Jika setiap polisi di Indonesia bisa seperti Aipda Andi, mungkin angka kecelakaan lalu lintas yang setiap tahun merenggut puluhan ribu jiwa bisa ditekan secara drastis. Mari kita dukung program ini karena pada akhirnya, keselamatan di jalan adalah tanggung jawab kita bersama.(Avs)

0 Komentar