Di balik layar ponsel yang setiap hari dipegang oleh ribuan pelajar di Kota Malang, ada ancaman yang bergerak senyap namun destruktif: kejahatan siber dan judi online. Pada Senin (20/4/26), Kasatreskrim Polresta Malang Kota, AKP Rahmad Aji Prabowo, turun langsung ke sebuah sekolah untuk memberikan peringatan yang tidak main-main. Bukan dengan nada menakut-nakuti, tetapi dengan data dan contoh konkret, ia membuka mata para siswa bahwa satu klik pada tautan tak dikenal bisa berakibat fatal. Mulai dari penipuan online yang menguras tabungan orang tua, hingga peretasan akun media sosial yang digunakan untuk menjebak teman-teman sendiri, semua nyata dan sudah terjadi di lingkungan sekitar mereka.
Dari perspektif aparat penegak hukum yang setiap hari menangani laporan kejahatan siber, AKP Aji melihat pola yang mengkhawatirkan: korbannya semakin muda. Ia menjelaskan bahwa pelaku kejahatan sengaja menargetkan pelajar karena mereka cenderung lebih percaya pada konten online dan kurang waspada terhadap modus penipuan. Contoh yang paling sering terjadi adalah tawaran menjadi dropshipper atau reseller dengan modal kecil, yang sebenarnya hanyalah cara untuk mencuri data rekening bank orang tua. Ia juga menyoroti judi online yang kini dikemas apik dengan tampilan game kasino berwarna-warni, sehingga anak muda tidak menyadari bahwa mereka sedang melanggar hukum dan mempertaruhkan uang sungguhan. Trauma psikologis korban, kata AKP Aji, sering kali tidak terlihat tetapi menghantui bertahun-tahun.
Yang membuat peringatan ini begitu penting adalah pengakuan jujur dari AKP Aji bahwa pemblokiran situs judi online oleh pemerintah ibarat menguras air laut dengan sendok. Setiap hari, puluhan bahkan ratusan domain baru bermunculan, dan aparat tidak bisa bekerja sendiri. Karena itu, ia meminta para pelajar untuk menjadi benteng pertama dengan tidak pernah mengakses situs judi dalam bentuk apa pun. Ia juga mengingatkan bahwa Undang-Undang ITE menjerat tidak hanya pelaku besar, tetapi juga siapa saja yang terlibat dalam aktivitas ilegal di dunia maya, termasuk menyebarkan konten penipuan atau menjadi perantara judi online. Para siswa yang tadinya menganggap hal ini sepele, kini tampak serius mendengarkan setiap kata.
AKP Aji mengakhiri sesi dengan ajakan yang lugas: jadilah cerdas secara akademik sekaligus cerdas digital. Ia berpesan bahwa kebanggaan sejati bukanlah memiliki banyak follower atau bisa memenangkan judi online, tetapi mampu melindungi diri sendiri dan orang lain dari bahaya yang tidak terlihat. Polresta Malang Kota melalui kegiatan ini tidak hanya membangun kesadaran hukum, tetapi juga menciptakan sinergi antara polisi, sekolah, dan keluarga. Jika setiap pelajar pulang dengan tekad untuk lebih waspada, maka kejahatan siber perlahan akan kehilangan korbannya. Ingat, di dunia digital, kewaspadaan adalah senjata paling ampuh.(Avs)
.jpeg)
0 Komentar