Salah satu keluhan klasik dalam rekrutmen kepolisian selama ini adalah ketidakjelasan hasil dan lamanya pengumuman yang kerap memicu spekulasi kecurangan. Polda Jatim bersama Kompolnas mencoba mematahkan stigma itu dengan sistem baru. Pada seleksi Akpol 2026 yang digelar di SMKN 5 Surabaya, setiap peserta yang selesai mengerjakan tes psikologi bisa langsung melihat skornya saat itu juga. Karo SDM Kombes Pol Sih Harno menyebut langkah ini sebagai bentuk transparansi radikal yang harus menjadi standar ke depan.
Sih Harno menjelaskan bahwa tes psikologi yang diikuti 276 peserta ini baru tahap awal. Seleksi untuk Bintara dan Tamtama akan menyusul dengan metode serupa, di mana hasil langsung diketahui dan peserta bisa mengajukan keberatan di tempat jika merasa ada kesalahan. Sistem pengawasan juga dibuat berlapis: internal dari Itwasda dan Propam, eksternal dari Kompolnas yang hadir langsung. Bahkan tim psikologi yang membuat soal pun ikut diawasi agar tidak ada kebocoran materi ujian sebelum hari-H.
Mohammad Choirul Anam dari Kompolnas mengapresiasi langkah Polda Jatim yang membuka seluas-luasnya partisipasi publik dalam proses seleksi. Menurutnya, pengawasan tidak hanya datang dari institusi, tetapi juga dari masyarakat dan peserta sendiri. Dengan hasil yang langsung terpampang, tidak ada lagi ruang bagi panitia untuk mengubah nilai di belakang hari. Jika pun ada peserta yang komplain, mekanisme penyelesaiannya disediakan di lokasi, bukan berminggu-minggu kemudian dengan alasan prosedur berbelit.
Anam juga mengingatkan bahwa indikasi kecurangan tidak selalu berasal dari panitia, tetapi juga dari peserta yang mencoba membawa alat komunikasi tersembunyi. Oleh karena itu, pemeriksaan ketat sebelum masuk ruang ujian sangat penting. Semua ponsel dan perangkat elektronik disimpan di tempat khusus yang dapat dilihat oleh semua orang. Dengan kombinasi pengawasan internal, eksternal, dan transparansi hasil, diharapkan generasi perwira polisi yang lahir dari seleksi ini benar-benar yang terbaik dan terbersih.(Avs)

0 Komentar