Saat Hujan Enggan Turun, Petani Kedungmlaten Berdamai dengan Alam Lewat Kacang Panjang dan Melon


Nganjuk- Perubahan iklim telah mengubah wajah pertanian di berbagai daerah, dan petani Desa Kedungmlaten memilih untuk berdamai dengan alam dengan mengalihkan lahan mereka dari tanaman yang haus air ke kacang panjang dan melon yang lebih bersahabat dengan musim kemarau, Jumat (19/6/2026). Bhabinkamtibmas Aipda Sudarmanto sebagai penggerak ketahanan pangan secara intensif memantau proses adaptasi ini, memastikan bahwa petani mendapatkan pendampingan yang cukup dalam menghadapi perubahan pola cuaca yang semakin sulit diprediksi. Kapolres Nganjuk AKBP Suria Miftah Irawan menyatakan bahwa kemampuan beradaptasi adalah kunci utama bagi petani untuk tetap bertahan di tengah perubahan iklim, dan pemilihan komoditas yang sesuai dengan kondisi musim adalah langkah bijak yang patut didukung penuh.

Nganjuk- Di lahan pertanian, Aipda Sudarmanto berdialog panjang dengan para petani tentang berbagai strategi adaptasi yang bisa dilakukan, mulai dari penggunaan varietas unggul yang tahan kekeringan hingga penerapan pola tanam yang disesuaikan dengan ketersediaan air yang semakin terbatas. Petani mengaku bahwa peralihan ke kacang panjang dan melon bukanlah keputusan instan, melainkan hasil dari pengamatan bertahun-tahun terhadap pola musim dan uji coba berbagai komoditas yang akhirnya membawa mereka pada pilihan yang paling rasional dan menguntungkan. Keberhasilan adaptasi ini menjadi bukti bahwa petani Indonesia tidak pernah kehilangan akal, selalu menemukan cara untuk bertahan dan berkembang meskipun alam terus berubah dengan caranya sendiri.

Nganjuk- Kapolsek Lengkong AKP Sugiyono menegaskan bahwa Polri akan terus mendukung upaya adaptasi petani melalui pendampingan dan fasilitasi, karena ketahanan pangan nasional sangat bergantung pada kemampuan petani dalam membaca dan merespons perubahan iklim. Polres Nganjuk berharap Desa Kedungmlaten dapat menjadi laboratorium adaptasi iklim bagi daerah-daerah lain yang menghadapi tantangan serupa, menjadikan pertanian Indonesia tetap tangguh dalam segala kondisi. Dengan semangat berdamai dengan alam dan inovasi tanpa henti, petani Kedungmlaten menunjukkan bahwa perubahan iklim bukanlah akhir dari segalanya, tetapi awal dari perjalanan baru yang penuh dengan pembelajaran dan kebijaksanaan.(Avs)

Posting Komentar

0 Komentar